Saturday, 8 September 2012

MUSLIADI PEMASANG TIANG LISTRIK TEWAS TENGGELAM


SIGLI, 6-09-2012, jam 18.00 Wib, kami kami Tim SATGAS SAR Kabupaten Pidie menerima informasi dari salah seorang anggota RAPI, bahwa ada orang hilang tadi sore jam17.00 wib
Di Kuala Tari Kembang Tanjong,setelah mengecek bahwa informasi tersebut benar, kami tim SATGAS SAR kab Pidie beserta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) langsung menuju lokasi kejadian.
            Setelah melakukan penyisiran pinggir laut menggunakan Speed Boat dan di bantu oleh Polisi Air sampai jam 21.00 wib malam belum berhasil menemukan si korban.
Pada pagi hari jam 7.00 wib SATGAS SAR Kabupaten Pidie, di bantu oleh Badan Penanggulangan Bencana,Polisi Air,beserta Masyarakat setempat melakukan lagi pencarian  , akhirnya, Musliadi (25) warga Alumbang Timur Gampong Sido Mulio, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, ditemukan telah menjadi jasad, Jumat (7/9) jam 8.30 wib.
            Dari hasil wawancara dengan warga setempat, korban beserta kedua kawannya
Seusai memasang tiang listrik, korban bersama Saiful (30) dan Fadli (19) warga Gampong Bayu, Aceh Utara, pergi mandi laut, tanpa disadari si korban mandi agak sedikit jauh dari dua temannya, pada saat  itulah si korban tenggelam dan kedua kawanya sempat melihat si korban melambaikan tangannya dengan isyarat minta tolong, tapi dengan begitu cepat si korban di gulung oleh ombak.


Wednesday, 5 September 2012

CORETAN PERJALANAN SI GEMBEL PENGEJAR MIMPI 
”SEUMILEUK EXSPEDISI”

    Rumor dari mulut kemulut alias radio meu igoe..konon katanya di hutan aceh ada suku koloni orang kerdil “Mante” di sebut sebut. sampai saat ini informasi tentang mante sebatas dari cerita mulut ke mulut,dan peneliti Belanda awal tahun 19-an katanya juga pernah mempublikasikan masalah mahluk ini, sayangnya tidak jelas literaturnya. Karena bersumber dari orang tua (sudah alm) tapi sayang karena tidak dapat diungkapkan secara ilmiah, baik rekaman foto atau film.

    menurut riwayat, suku mante adalah penduduk asli yang mendiami aceh,ada yang menyebutkan awal berkembangnya suku mante dimulai dari Gampong seumileuk letak perkampungan tersebut di kawasan hutan antara Jantho dan Tangse. hal ini dibuktikan dengan ditemukan bekas persawahan dan kuburan. Dari Rumor mulut kemulut bahasa kerennya orang aceh radio meu igoe di kawasan hutan antara Jantho dan Tangse ada bekas perkampungan, dari rumor tersebut kami UKM Jabal Riset Universitas Jabal Ghafur Sigli,menggali informasi tentang kebenaran rumor tersebut,dan teryata masih ada salah seorang yang dulunya pernah tinggal di sana.


     Dan suku mante bukan berasal dari perkampungan yang ada di seumileuk (hasil wawancara dengan Abi Tangse), Karna penasaran dengan bekas perkampungan tersebut dan ingin membuktikan kebernaran hal itu,. tim jabal riset mahasiwa jabal ghafur di dampingi oleh salah seorang tokoh masyarakat padang tiji beliau juga salah seorang pimpinan salah satu pesantren di padang tiji yang akrap di panggil Cek Azis dan juga beberapa orang muridnya yang juga ikut,dan di dampingi lagsung oleh salah seorang yang dulu pernah tinggal di perkampungan tersebut,kami memanggilnya Abi Tangse dulu beliau pernah mendiami tempat itu pada saat penjajahan belada dan akhirnya harus turun ke tangse, karna merasa tidak aman dan tidak di ijinkan lagi tinggal di sana oleh belanda, semua rumah di sana di bakar oleh belanda, sampai sekarang beliau tinggal di tangse,tepatnya di kampung neubok badeuk tangse. Untuk sampai ke temmpat perkampungan itu kami harus menempuh perjalanan dari janthoe tiga hari perjalanan dengan kaki baru sampai ke bekas perkampungan seumileuk,


    Untuk sampai ke tempat tersebut sangat banyak rintangan yang kami temui dan harus kami lewati terutama sungai,padang safana,dan bukit yang harus kami daki.. antara Jantho dan Tangse di sana memang ada ditemukan bekas persawahan dan kuburan, juga masih ada pohon durian yang sangat besar dan berderetan bambu yang di tanam pada saat itu dan sampai sekarang masih tumbuh subur di pinggir sungai, dari bekas perkampungan tersebut kami tim JARMA melanjutkan perjalanan lagi ke Goa, butuh perjanan satu hari perjalanan kaki dari bekas perkampungan seumileuk baru kami samapai ke Goa, Dari hasil keterangan Abi Tangse Goa tersebut adalah goa Aulia seperti Goa 7 yang ada di lawueng tapi goa yang ada di simeulek belum banyak terjamah oleh manusia golom pacah istilah bahasa aceh, karna akses untuk ke sana sulit. di tempat tersebut juga banyak goa-goa lain, salah satu goa yang kami masuki adalah goa krueng (sungai).

    Di tempat goa krueng tersbut abi tangse juga pernah membawa orang untuk kaluet uniknya orang yang kaluet di sana adalah seorang perempuan dari Mila tepatnya jalan Garot-Jabal Ghafur. untuk sampai ke goa mereka harus melakukan perjalanan dari tangse perkampungan terakhir neubok badeuk melakukan perjalan kaki dua hari baru sampai ke goa untuk turun ke goa harus turun menggunakan tangga seadanya kira kira 7 meter di dalam goa tersebut ada sungai yang mengalir dan air nya sangat jernih dan juga banyak ikan ikan yang hidup di situ, Dari goa tersebut kami melakukan perjalanan pulang 2 hari perjalan baru sampai ke perkampungan terakhir tangse, yaitu neubok badeuk. Dari neubok badeuk kami melalakukan perjalan pulng ke kampus Unigha tercinta di jemput Damri kampus.

 KESIMPULAN:

    Rumor tentang awal berkembangnya suku mante dimulai dari Gampong seumileuk letak perkampungan tersebut di kawasan hutan antara Jantho dan Tangse itu bisa di pastikan tidak benar,
namun keberadaan bekas Gampong seumileuk di pastikan 100% benar. Tetapi dari hasil wawancara dengan beberapa orang yang ada di tangse yang kegiatan sehari-harinya me rusa,me ungkot, mereka pernah melihat orang yang di sebut mante di gunong tiplek mereka sering bermain di sungai,
    untuk akses menuju gunong tiplek dari goa seumileuk harus melakukan perjalanan kira-kira 3 hari, Dan hasil wawancara kami juga dengan Abi Tangse waktu beliau muda sering juga di ceritakan tentang suku mante dan bahkan ada yang pernah menangkapnya, dan lama kelamaan dikawinkan dengan salah seorang wanita yang ada di tangse. Benar atau tidak tentang cerita suku mante sampai sekarang masih jadi tanda tanya,
    Misi kami untuk ke depan semoga kami bisa sampai ke gunong tiplek,dan mudah mudahan bisa bertemu dengan suku mante yang jadi misteri sampai sekarang.

 PESAN :

   Teruslah berbuat sedikit tapi bermakna.

Friday, 16 September 2011

PEMBERSIHAN DAN PENANAMAN DI GUHA TUJOEH LAWEUNG



Di Aceh memang terdapat banyak sekali wisata alam, sayangnya tidak dikelola dengan baik,
dalam menyambut hari lingkungan hidup tahun dan juga telah menjadi agenda tahunan 
KOPALA PIDIE-ACEH (Komunitas pecinta alam dan lingkungan hidup pidie-aceh)  melakukan 

kegiatan pembersihan dan penanaman di guha tujoeh laweung.
guha tujoeh adalah Salah satu tempat wisata yang menarik untuk di kunjungi, terletak di Desa Laweung Kecamatan Mutiara Kab. Pidie. Dari keude Grong - Grong masuk ke dalam kira² 70 Km dengan kondisi jalan lumayan berat atau bisa juga (namun tidak disarankan karena kondisi jalan yang lebih parah) via Desa Laweung di kaki Gunung Seulawah.

Guha Tujoeh sendiri terdari dari sekumpulan guha yang sangat dalam dan gelap, ada Guha Sarang (Gua Sarang Walet), Guha Uleu (Gua Ular) dan lain² yang jumlah keseluruhan mencapai tujuh gua. Bagi anda yang ga berani masuk ke dalam gua² tersebut sepertinya cukup puas dengan memasuki gua pertama yang ga dalam dan gelap.

Pada hari libur Guha Tujoeh selalu ramai dikunjungi oleh warga sekitar maupun pendatang, juga terdapat beberapa pemandu yang akan memberi penjelasan kepada anda mengenai gua - gua tersebut, jadi anda bisa bertanya ini itu pada beberapa orang yang selalu stand by di tempat tersebut dan bersedia menjadi pemandu anda untuk masuk ke dalam.

karna kurangnya kesadaran pegunjung akan kebersihan ,sehingga banyak sampah  Anorganik  yang dibawa oleh pegunjung masuk kedalam dan bayak lagi corat coret dinding oleh ulah tangan manusia2 yang terlampau kreatif dan egois tanpa memikirkan efeknya,
oleh karna itu  KOPALA PIDIE-ACEH dan di bantu oleh masyarakat sekitar melaukan pembersihan dan penghijauan dalam rangka menyambut hari lingkungan hidup sedunia.
semoga apa yang KOPALA PIDIE-ACEH lakukan bisa beranfaat untuk masyakat banyak.

        teruslah berbuat sedikit tapi bermakna

guha tujoeh Laweung



BATU PELAMIN YANG ADA DI DALAM GUHA UTAMA 
SAAT PEMBERSIHAN DI DEPAN PINTU GUA
PINTU TURUN KE DALAM GUA



FOTO BERSAMA DENGAN PENGHUNI GUA



PEMBERSIHAN DI DALAM GUA
FOTO BERSAMA DENGAN MASYARAKAT SETEMPAT