Wednesday, 18 May 2011

pantaskah aku di sebut anak pecinta alam

pecinta alam
apakah aku pantas di sebut pecinta alam
sedangkan aku hanya bisa menikmati apa yang ada di alam
belum bisa berbuat banyak untuk alam
pantaskah aku di sebebut pecinta alam
sedangkan aku masih acuh tak acuh dengan anak pecinta alam lain,
aku sring menghindar,
sedangkan mereka meyapa ku dengan begitu ramah
pantaskah aku di sebut pecinta alam
sedangkan akau masih memetik bunga kebanggan ku edelwise ,

  aku belum bisa menjaga alam ku yang semakin hari semakin gundul
tolonglah aku sahabat ku pecinta alam
berilah aku petunjuk supaya bisa seperti kalian
Bisa mencintai alam dengan ikhlas tanpa rasa pamrih sedikitpun

lestari alam ku

Monday, 4 April 2011

Latar Belakang Kopala Sigli-Aceh


 segala puji bagi allah yang telah menganugrahkan segala berkah kepada penghuni langit dan bumi ,dimana manusia adalah mahluk yang paling agung di muka bumi.
namun berbagai sumber daya yang harus di telaah demi nenuju insan yang madani
  kopala adalah sebuah organisasi yang terbentuk atas azas-azas atau wujud kepedulian terhadap sumber daya alam. dimana sumber daya alam yang berlimpah baik didaratan dan lautan,
yang mana semuanya itu harus kita jaga dan kita lestarikan bersama sebagai sumber kehidupan yang sangat bermanfaat bagi kita dimasa kini dan masa yang akan datang.
 pada tanggal 26 DESEMBER 2006. di sigli kabupaten pidie terbentuklah organisasi yang di sebut ; Komunitas Pecinta Alam Dan Lingkungan Hidup (KOPALA)
yang selalu berkomit pada pelestarian alam dan lingkungan hidup yang akan berusaha berbuat yang terbaik bagi bangsa khususnya di bidang pelestarian alam dan lingkungan hidup.
KOPALA berperan aktif dalam mengembalikan kesadaran generasi dalam pelestarian lingkungan hidup, menciptakan paradigma-paradigma yang mau peduli terhadap pelestarian alam dan serta meningkatkan pemahaman dan kesadaran kritis pada generasi akan issue lingkungan hidup dan pemanfaatan sumberdaya alam.
   berdasarkan uraian di atas KOPALA memiliki landasan,
dimana landasan yang berdasarkan undang-undang lingkungan hidup No. 4 tahun 1982.
dan menitik beratkan pada UUD 1945 yang berazaskan pancasila.
dari landasan tersebut KOPALA, akan berusaha mengembangkan komunitas dalam pelestarian lingkungan hidup. menumbuhkan dasar-dasar pemikiran peduli terhadap lingkungan yang kemudian tercipta nya insan indonesia umumnya yang peduli ,serta berperan aktif terhadap perkembangan keadaan lingkungan yang sering terjadi expolitasi di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam khususnya dan indonesia umum nya.

Sunday, 6 March 2011

Awal petualangan ku

sabtu 19  s/d  25 desember 2009

diriku tak pernah meyangka dari informasi dan ajakan seorang teman, kesukaanku terhadap alam akan membawa pada sebuah komunitas yang gak pernah aku bayangkan, maklum aku orangnya kuper alias kurang pergaulan.
yang aku tau  Bahwa Alam mampu menyeimbangkan fikiran dan tempat berbagi kegelisahan yang paling aman! 

bulat lonjong,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!
(gak sanggup pikir senioeeeeeerrrrrrrrrr hank kepala)



bulat lonjong senjata 
kita digemari para wanita 
bergerak maju mundur 
bertempur di atas kasur 
sudah bunting
kita kaburrr,,,,,,,,,,,,,,,,



lirik lagu di atas gak akan pernah dan gak mungkin bisa aku lupakan.
karna mempuyai sejuta kenangan yang gak mungkin bisa dilupakan
hanya sekali dalam seumur hidup,,,,,,,,,,,













Simpan rasa takut anda untuk diri sendiri,tapi bagi keberanian anda dengan orang lain.

Friday, 4 March 2011

Kreatif Dan Egois, Tanpa Mikir Efeknya

Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memploklamirkan dirimu pecinta alam
sementara maknanya belum kau miliki



Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana ku temui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam


Batu batu cadas merintih kesakitan
ditikam belatimu yang bermata ayal
hanya untuk mengumumkan pada khalayak
bahwa disana ada kibar bendera mu


Oh alam, korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mengerti arti kehidupan


ketika aku mendaki ke gunung burni telong sakan nafas tersentak kaget,kepala ini seolah tunduk malu melihat pepohonan dihiasi dengan nama-nama manusia  terlampau kretif tanpa memikirkan efeknya bebatuan dipahat,di cat persis seperti jaman manusia purba

Kurangnya kesadaran dan pembelajaran menjadikan aksi corat-coret di tempat umum, bah kan di atas puncak gunung seolah menjadi hal yang lumrah. Mungkin akan sangat mudah jika corat-coret itu di dinding, lalu dengan cat bisa di tutupi.
Bagaimana jika hal tersebut terjadi , di batuan gunung, dinding goa. Bukan perkara yang mudah untuk menghapus cat dan goresan, sehingga  sangat disayangkan. Sifat alami, seni dan keindahan juga akan ikut tercoreng jika ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab ikut mengukirkan dirinya di media yang bukan semestinya.

Mari kita perangi sifat vandalisme 
Teruslah berbuat sedik tapi bermakna